Rabu, 25 Maret 2026

Perusahaan Minyak Filipina Naikkan Harga BBM, Nilai Jual Bensin Alami Tren Kenaikan

 

    Krisis Energi, Image: DALL·E 3



JAKARTA- Perusahaan minyak di Filipina telah menerapkan kenaikan harga dua digit untuk produk diesel dan minyak tanah pada Selasa, 24 Maret 2026.


Mengutip Philstar.com, ditulis Rabu (25/3/2026), perusahaan minyak UniOil dan SeaOil mengumumkan secara terpisah penyesuaian produk bahan bakar minyak (BBM) antara lain


  • Minyak tanah: 20,90 Peso Filipina per liter atau Rp 5.889,68 (asumsi Peso Filipina terhadap rupiah di kisaran 281,8)
  • Diesel: 16,80 Peso Filipina per liter atau Rp 4.734,29
  • Bensin: 9,70 Peso Filipina per liter atau Rp 2.733,49
  • 84,30-110,10 Peso Filipina atau Rp 23.755-Rp 31.026,51per liter untuk bensin
  • 108,80-133,10 Peso Filipina atau Rp 30.660,16-Rp 37.507,98 per liter untuk solar
  • 120,89-164,69 Peso Filipina atau Rp 34.067,16-Rp 46.410,14 untuk minyak tanah

Petron akan menyesuaikan harga sebesar 10,50 Peso Filipina per liter untuk bensin, 17,50 per liter untuk diesel dan 21,50 Peso Filipina per liter untuk minyak tanah.

Sementara itu, Cleanfuel akan menerapkan kenaikan bertahap sebesar 8,40 Peso Filipina per liter untuk diesel. Sementara itu, penyesuaian harga tersebut diterapkan oleh UniOil, SeaOil dan Petron pada pukul 6 pagi waktu setempat.

Pada konferensi pers Selasa, 24 Maret 2026, Menteri Energi Sharon Garin mengatakan, perusahaan minyak Caltex dan Total juga akan menerapkan kenaikan bertahap. Caltex akan melakukan kenaikan bertahap selama lima hari, sedangkan Total selama dua hari.

Jika kenaikan harga yang diumumkan itu mulai berlaku pada 24 Maret, harga bensin, minyak tanah, dan solar akan melebihi 100 Peso Filipina atau Rp 28.180 per liter.

Meskipun perusahaan minyak lain menaikkan harga bahan bakar, PetroGazz telah menerapkan penurunan harga sejak 20 Maret. Pada 23 Maret, mereka juga menerapkan penurunan harga bahan bakar sebesar P5 di beberapa cabang mereka di seluruh negeri.

Pemerintah sebelumnya mengatakan pasokan negara cukup untuk setidaknya 60 hari selama konflik di Timur Tengah masih berlangsung.

Untuk menghemat pasokan negara yang semakin menipis, Departemen Energi mengatakan telah mengizinkan impor produk minyak bumi Euro 2, yang menghasilkan emisi lebih tinggi daripada standar Euro 4 yang tersedia di negara tersebut.

Sebelumnya, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr telah mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional. Ia memperingatkan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat menganggu pasokan minyak global dan mendorong kenaikan biaya bahan bakar dan listrik di Filipina.

Mengutip Straits Times, Selasa (24/3/2026), pada 24 Maret 2026, Marcos menandatangani perintah eksekutif menuturkan, konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel dan Iran yang menciptakan ketidakpastian di pasar energi global menganggu rantai pasokan dan memberikan tekanan ke atas pada harga minyak, merupakan ancaman bagi keamanan energi negara.

Langkah ini menandakan Manila bersiap bukan hanya untuk lonjakan sementara harga minyak tetapi juga guncangan eksternal yang berpotensi berkepanjangan yang dapat memicu inflasi.

Hal ini dapat membebani biaya transportasi dan listrik serta menguji kemampuan pemerintah untuk melindungi konsumen dalam ekonomi yang sangat bergantung pada impor.

Filipina mengimpor hampir semua kebutuhan bahan bakarnya, sehingga sangat rentan terhadap gangguan di jalur pelayaran utama seperti Selat Hormuz.

Perintah yang ditandatangani oleh Marcos ini memulai respons pemerintah yang terkoordinasi untuk menstabilkan pasokan bahan bakar dan membatasi dampak lanjutan pada transportasi, pangan, dan listrik.

Langkah-langkah tersebut mencakup subsidi bahan bakar untuk sektor-sektor kunci seperti pengemudi transportasi umum, pengawasan yang lebih ketat untuk mencegah penimbunan dan pengambilan keuntungan yang tidak wajar, dan persetujuan yang lebih cepat untuk proyek-proyek energi.

Perintah eksekutif tersebut juga memungkinkan pemerintah untuk menyederhanakan proses pengadaan dan memobilisasi sumber daya lebih cepat, sambil berkoordinasi dengan sektor swasta untuk mengamankan pasokan dan menjaga pembangkitan listrik yang stabil.

"Filipina masih memiliki pasokan bahan bakar sekitar 45 hari, kata Menteri Energi Sharon Garin dalam konferensi pers terpisah pada 24 Maret.

Namun, ia mengatakan pemerintah mengalokasikan sekitar 20 miliar peso atau Rp 5,63 triliun (asumsi kurs peso Filipina terhadap rupiah 281,7) (427 juta dolar Singapura) untuk membangun cadangan diesel, di tengah ketidakpastian yang terkait dengan krisis Timur Tengah.

Pemerintah menargetkan untuk mengumpulkan dua juta barel, setara dengan pasokan tambahan sekitar 10 hari, dengan satu juta barel awal yang sekarang sedang dibeli dari dalam dan luar Asia Tenggara.

Garin mengatakan cadangan tersebut, yang dimaksudkan sebagai penyangga pencegahan, akan memprioritaskan sektor transportasi, karena pemerintah berupaya untuk mendiversifikasi sumber bahan bakar.






(SUMBER:Liputan6)

 




0 comments:

Posting Komentar